Sabtu, 04 Agustus 2012

Rangkuman Pembelajaran Seni dan Budaya SD



Pembelajaran Seni Rupa

Seni rupa adalah karya cipta manusia, merupakan curahan isi jiwa (akal, pikiran, dan perasaan) sebagai hasil sentuhan pengalaman yang berkesan, yang diwujudkan melalui unsur-unsur visual (rupa) seperti garis, bidang, warna, tekstur, volume, dan bentuk. Letak perbedaan antara seni rupa ciptaan orang dewasa/seniman dan ciptaan anak adalah pada penerapan kaidah dan visi seninya.



Perbedaan karya seni rupa anak dan orang dewasa

a)      Seni rupa bagi anak adalah sebagai media kegiatan untuk mengembangkan potensi jiwa dalam  pengembangan diri. Pengalaman berseni rupa bagi anak merupakan bagian dari kehidupannya. Melalui pengalaman berseni rupa, anak mengenal olah pikir, olah rasa, dan olah krida sebagai perluasan lahan bermain yang harmonis. Dengan mengamati, meniru, mengangan-angan, mencoba, dan mencipta suatu perwujudan melalui pengorganisasian unsur-unsur visual, berarti anak telah berseni rupa. Untuk mewujudkan karyanya dapat melalui penggunaan berbagai alat dan bahan (media) dengan berbagai ragam caranya. Memandang keberhasilan seni rupa anak bukan semata-mata hanya dari segi produk ciptaannya saja, bahkan yang lebih penting adalah dari segi proses penciptaannya. Produk ciptaan bukanlah target akhir bagi anak. Melakukan kegiatan berseni rupa merupakan lintasan yang sangat penting bagi anak untuk pertumbuhan jiwa dan raganya.
b)      Seni rupa karya orang dewasa diukur dan dinilai dari beberapa aspek, seperti gaya/corak dan alirannya, teknik dan penggunaan alat serta bahannya, pengorganisasian unsur-unsurnya, pesan yang dibawakannya, kebaharuan atau kemutakhirannya, kemurnian ciptaannya, dan sebagainya. Karya orang dewasa dipandang dari aspek nilai seni produknya, karena wujud karya itulah sebagai target akhir ciptaannya.

  Pengertian:

a)      Seni adalah keindahan:
Unsur karya seni memiliki sebuah keindahan, baik karya tersebut melalui lukisan, pahat, handmade dll. Pada setiap bagia terkecilnya memiliki keindahan masing-masing bagi para penikmat seni.
b)      Seni adalah ekspresi
Sebagai media ekspresi, seni memiliki peran untuk mengungkapkan perasaan, pendapat, tanggapan dan sikap seseorang.
Dilihat dari segi fungsinya seni adalah sarana untuk mengobyektifkan pengalaman batin sehingga dapat dikontemplasikan dan dipahami maknanya. Kondisi ini memberikan fungsi lain bagi seni yaitu sebagai media komunikasi yang bersifat simbolik melalui lambang-lambang komunikasi, seni mengekspresikan ide serta pengalaman rasa yang tidak dapat dikomunikasikan melalui media lain seperti bahasa dan matematika. Sekalipun bahasa juga merupakan media komunikasi simbolik, namun ekspresinya bersifat konseptual dan belum menampung dorongan ekspresi yang bersifat emosional yang justru menjiwai pola kehidupan manusia (Pranjoto Setjoatmodjo, 1990:8). Seni sebagai media “komunikasi” di maksudkan sebagi alat “pesan” yang ingin diinformasikan kepada orang lain, kepada masyarakat, baik berbentuk buah pikirn perasaan, keinginan maupun segala harapan. Dapat juga sebagai pernyataan “kritik” ketidak setujuan atau ketidak sephaman seperti biasanya diungkapkan dalam bentuk “kartun”,nyanyian dan drama modern (Muharam,1992:5).

Definisi seni menurut para ahli

Definisi Seni dari Segala Sudut Pandang
-          Ketrampilan mengolah sesuatu menjadi karya yang menawan
-          Ungkapan jiwa dan perasaan seseorang yang dituangkan ke dalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada dan syair
-          Pada mulanya adalah proses dari manusia, oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu
-          Kreatifitas yang telah ada ( alamiah ) maupun diciptakan manusia diberbagai macam hal di dunia
-          Barang/karya/hasil dari sebuah kegiatan
-          Kebebasan berkarya yang dilatar belakangi oleh jiwa
-          Senjata hidup para pelaku seni ( sniman )
-          Ekspresi yang dicurahkan dari dalam jiwa manusia
-          Hasil aktifitas seseorang
-          Istilah yang digunakanuntuk semua karya yang dapat menggugah hati untuk mencari tahu siapa penciptanya
-          Penyampaian gagasan, sensasi, dan perasaan dengan seefektif mungkin
-          Salah satu tolak ukur kapasitas ke-melankolis-an manusia
-          Kekayaan yang mutlak ada pada diri manusia tersebut, tinggal bagaimana manusia tersebut dapat mengolahnya menjadi asset yang berharga atau hanya menjadi kekayaan yang disfungsi
-          Penjelasan rasa indah yang terkandung dalam jiwa setiap manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengar ( seni suara), penglihatan( seni lukis ), atau dilahirkan dengan perantara gerak ( seni tari, drama)
-          Segala sesuatu yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsure rasa
-          Pengekspresian cita rasa yang diluapkan dalam satu karya yang dapat dikatakan unik
-          Kegiatanatau hasil pernyataan perasaan keindahan manusia
-          Suatu karya yang mempunyai daya tarik tersendiiri
-          Keindahan yang bersifat unik dan dilampiaskan dengan suatu karya
-          Luapan psikologi manusia yang dikembangkan lewat pemikiran yang kreatif dan cerdas
-          Rangkaian dari kemauan, inspirasi, dan karya manusia
Dari segala definisi yang ada di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi seni yang sejatinya adalah segala hal indah yang dirasakan oleh jiwa manusia dan diungkapkan melalui sebuah karya dengan berbagai media.  (Sumber: Ekonomi.Kompasiana.Com)
Definisi seni menurut para ahli:
Ø  Seni menurut Leo Tolstoy (Sumardjo, 2000:62) adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.
Ø  Seni menurut Sukaryono (1988:7) adalah ungkapan isi hati dan perasaan yang disebut sebagai bahasa seniman yang dikomunikasikan.
Ø  Seni menurut Thomas Munro (Mikke Susanto, 2002:101) adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.
Ø  Seni menurut Soedarso SP ( Mike Susanto, 2002:101) adalah karya manusia yang mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin tersebut disajikan secara indah sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula pada manusia lain yang menghayatinya.
Ø  Menurut P. Mulyadi, 2000:5-7, Seni adalah hasil karya manusia yang mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin tersebut disajikan secara indah dan menarik sehingga memberikan atau merangsang timbulnya pengalaman batin pula kepada manusia lain yang menghayatinya. Kelahiran tidak didorong oleh hasrat memenuhi kebutuhan manusia yang pokok, melainkan merupakan usaha untuk melengkapi dan menyempurnakan derajad kemanusiaannya, memenuhi kebutuhan yang spiritual sifatnya.

Seni Rupa zaman Prasejarah dan Hindu di Indonesia yang bersifat magis dan religius.

1.      Seni Rupa Prasejarah Indonesia
Zaman prasejarah (Prehistory) adalah zaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme) Zaman prasejarah Indonesia terbagi atas Zaman Batu dan Zaman Logam
a)      Seni Rupa Zaman Batu
Zaman batu terbagi lagi menjadi: zaman batu tua (Palaeolithikum), zaman batu menengah (Mesolithikum), Zaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di zaman logam disebut zaman megalithikum (Batu Besar) Peninggalan – peninggalannya yaitu:
-          Seni Bangunan
Manusia paleolithikum belum memiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering). Tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari zaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di SulawesiSelatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukitkerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan. Kemudian zaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu / bambu. Pada zaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofagus,meja batu dll.
-          Seni Patung
Seni patung berkembang pada zaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian zaman megalithikum banyak ditemukan patung –patung berukuran besar  bergaya statis monumental dan dinamis piktural.
-          Seni Lukis
Dari zaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding guaseperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegan perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada zaman neolithikum dan megalithikum, lukisanditerapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasanornamentik (motif geometris atau motif perlambang).
b)      Seni Rupa Zaman Logam
Zaman logam di Indonesia dikenal sebagai zaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:
-          Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ulang berulang;
-          Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hanya satu kali pakai (tidak bisa diulang)
2.      Seni Rupa Indonesia Hindu Budha
Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik. Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan istana dan feodal). Prose akulturasi kebudayan India danIndonesia berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses:
-          Proses peniruan (imitasi)
-          Proses Penyesuaian (adaptasi)
-          Proses Penguasaan (kreasi)
a)      Ciri – Ciri Seni rupa Indonesia Hindua.
1.    Bersifat Peodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai medi pengabdian Raja (kultus Raja).
2.    Bersifat Sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama.
3.    Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu pedoman padasumber hukum agama (Silfasastra).
4.    Hasil akulturasi kebudayaan India dengan indonesia
3.    Karya Seni Rupa Indonesia Hindu Budha.

a)      Seni Bangunan

1)      Bangunan Candi
Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Dugra). Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan Raja yang meninggal, contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain itu candi pula berfungsi sebagai:
-      Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur.
-      Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contohnya candi Bajang Ratu.
-     Candi Balai Kambang / Tirta: didirikan didekat / ditengah kolam, contoh candi Belahan- Candi Pertapaan: didirikan di lereng – lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda.
-      Candi Vihara: didirikan untuk tempat para pendeta bersemedi contohnya candi SariStruktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian.
-      Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya (berbentuk segiempat, ujur sangkar atau segi 20)
-      Tubuh candi. Terdapat kamar – kamar tempat arca atau patung
-      Atap candi: berbentuk limas an, bermahkota stupa, lingga, ratna atau amalaka Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok.
Ada dua systemdalam pengelempokan candi, yaitu:
-      Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah – tengah anak – anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan.
-      Sistem membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia) yaitu induk candi berada di belakang anak – anak candi, contohnya candi penataran.

2)      Bangunan pura
Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak didirikan di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga halaman pengaruh dari candi penataran, yaitu halaman depan terdapat balai pertemuan, halaman tengah terdapat balai saji dan halaman belakang terdapat; meru, padmasana, dan rumah Dewa. Seluruh bangunan dikelilingi dinding keliling dengan pintu gerbangnya ada yang berpintu / bertutup (kori agung) ada yang terbuka ( candi bentar)
-          Pura agung, didirikan di komplek istana
-          Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi
-          Pura subak, didirikan di daerah pesawahan- Pura laut, didirikan di tepi pantai.

3)      Bangunan Puri
Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusatkeagamaan. Bangunan – bangunan yang terdapat di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga (Semanggen), tempat upacara meratakan gigi (Balain Munde) dsb.

b)      Seni patung Hindu Budha

Patung dalam agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti: Dewa Brahma Wisnu dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut keDewaan (laksana/ciri), misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraanhya (wahana) hangsa). Sedangkan pada patung wisnu laksananya adalah para mahkotanya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraannya lembu, (nadi) dsb. Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda – tanda kesucian,yaitu:
-          Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
-          Diantara keningnya terdapat titik (urna)
-          Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
-          Terdapat juga kerutan di leher
-          Memakai jubah sanghati

c)      Seni hias Hindu Budha

Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa, oleh sebab itu Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk azaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
-   Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat 3 dimensional yang membentuk struktur  bangunan candi, contohnya adalah hiasan mahkota pada atap candi, hiasan menara sudut pada setiap candi, hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu, hiasan makara, simbar filaster,dll.
-    Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding / bidang candi, contohnya adalah hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan Ramayana, sedangkan padacandi Budha adalah Jataka, Lalitapistara- Hiasan flora dan fauna- Hiasan pola geometris- Hiasan makhluk khayangan.
3.      Kronologis Sejarah Seni rupa Hindu Budha
a)      Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:
1)      Zaman Wangsa Sanjaya
Candi – candi hanya didirikan di daerah pegunungan. Seni patungnya merupakan perwujudan antara manusia dengan binatang (lembu atau garuda)
2)      Zaman Wangsa Syailendra
Peninggalan candinya : kelompok Candi Prambanan, Kelompok Candi Sewu, Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Mendut dan Kelompok Candi Plaosan. Seni patungnya bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di CandiBorobudur. 

b)      Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:
1)      Zaman Peralihan
Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan, yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga
2)      Zaman Singasari
Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan, contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.
3)      Zaman Majapahit
Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit. Peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll. Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga dikelan patung realistic dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruhdarin Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada.
4)      Seni Rupa Bali Hindu
Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura sebagai bangunan suci tetapi didalamnya tidak terdapat patung perwujudan Dewa karena masyarakat Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja

4)      Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah Dengan Jawa Timur
a)      Perbedaan struktur bangunan candi
-      Candi Jateng terbuat dari batu adhesit, sedangkan di Jatim terbuat dari batu bata
-      Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya ramping
-      Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak
-      Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi- Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di Jatim dengan sistem membelakangi.
b)      Perbedaan pada seni patungnya
-      Patung – patung di Jateng hanya sebagai perwujudan Dewa/Raja sedangkan di Jatimada pula perwujudan manusia biasa
-      Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya magis monumental
-      Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat pada bagian belakangkepala, sedangkan di Jatim terdapat di bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api
-      Pakaian Raja / Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi tradisi India,sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian batik, selendang dan ikat kepala.
c)      Perbedaan hiasan candi
-       Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan di Jatim bergayaWayang (distorsi)
-      Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan Ramayana,sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli Indonesia, misalnya cerita Panji
-      Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha sedangkan di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif penawakan dan gunungan serta perlambangan
-      Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni Cina seperti motif awan dan batu karang.

Seni sebagai media pendidikan

Dalam dunia pendidikan, seni memiliki banyak peran dalam proses pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar. Bebrapa hal yang di dapat dengan belajar seni diantaranya:
-    Memberikan fasilitas yang sebesar-besarnya kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya (ekspresi bebas).
-   Melatih imajinasi anak, ini merupakan konsekuensi logis dalam kegiatan ekspresi supaya dalam berekspresi seorang anak mempunyai bayangan terlebih dahulu.
-   Memberikan pengalaman estetik dan mampu memberi umpan balik penilaian terhadap suatu karya seni
-   Pembinaan sensivitas serta rasa pada umumnya, hasil yang diharapkan adalah terbinanya visi artistik dan fiksi imajinatif.
-   Mampu memberikan pembinaan keterampilan yaitu dengan membina kemampuan praktek berkarya seni kerajinan. Hal ini berguna untuk mempersiapkan kemampuan terampil dan praktis sebagai bekal hidup di kemudian hari.

Pendekatan  Berbasis   Disiplin   Ilmu      dan   Pendekatan  Kompetensi  dalam      Pendidikan Seni Rupa

1.      Pendekatan seni rupa berbasis disiplin ilmu
Pendekatan seni rupa berbasis disiplin ilmu (dicipline based art education, disingkat DBAE) berintikan pemikiran bahwa seni telah hadir dalam kehidupan bukan hanya sebagai kegiatan penciptaan, tetapi juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofis maupun ilmiah dan berhak dipelajari di lembaga pendidikan. Seni adalah disiplin ilmu yang khas dengan karakter yang dimilikinya, mendapat dukungan kelompok ilmuwan, dikembangkan melalui penelitian.
Pendukung Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin berpendapat bahwa Pendidikan Seni Rupa yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan emosinya adalah penting, tetapi jangan sampai mengabaikan kegiatan mempelajari aspek pengetahuan keilmuannya. Cakupan pendidikan seni rupa diperluas. Eisner (1987/1988) menegaskan bahwa Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin bertujuan untuk menawarkan program pembelajaran yang sistematik dan berkelanjutan dalam empat bidang seni rupa yang lazim dalam kenyataan yaitu bidang penciptaan, penikmatan, pemahaman, dan penilaian. Keempat bidang tadi disampaikan dalam kegiatan belajar; produksi seni rupa, kritik seni rupa, sejarah seni dan estetika. Anak hendaknya tidak hanya diberi kesempatan untuk berekspresi/ menciptakan karya seni rupa tetapi perlu juga mempelajari bagaimana caranya menikmati suatu karya seni rupa serta memahami konteks dari sebuah karya seni rupa dari berbagai masa. Pelaksanaannya tidak harus terpisah tetapi dapat dipadukan.
Pendidikan Seni Rupa Berbasis Disiplin merupakan suatu pendekatan dan merupakan suatu metode yang spesifik, maka wujud penampilannya dapat yang bervariasi. Yang jelas, sasarannya adalah adanya peningkatan kemampuan anak dalam berbagai bidang kegiatan tersebut.
Ciri DBAE(dicipline based art education) adalah:
a)      Seni rupa sebagai subyek dalam pendidikan umum dengan kurikulum yang tertulis serta disusun secara sistematis mencakup kegiatan ekspresi/kreasi, teori dan kritik/apresiasi seni rupa untuk membangun pengetahuan, pemahaman dan keterampilan.
b)      Kemampuan anak dikembangkan untuk menghasilkan karya, menganalisis, menafsirkan, dan menilai kualitas karya, mengetahui dan memahami peran seni rupa dalam masyarakat serta memahami keunikan karya seni rupa dan bagaimana orang memberikan penilaian dan menguraikan alasan penilaian.
c)      Seni rupa diimplementasikan dengan dukungan masyarakat, staf pengembang, nara sumber dan program penilaian (Dobbs, 1992).

2.      Pendekatan Kompetensi dalam Pendidikan Seni Rupa

Pendekatan kompetensi sering dianggap sebagai reaksi atas pendekatan yang mengacu kepada materi (termasuk DBAE). Tetapi jika direnyngkan sebetulnya arahnya sejalan, karena materi yang dipilih pada dasarnya dijabarkan dari kompetensi yang diharapkan. Bedanya, pada pendekatan kompetensi terlebih dahulu yang ditetapkan adalah kompetensinya.
Pendektan kompetensi dewasa ini, mendapat perhatian kembali di sekolah dan sedang dalam tahap sosialisasi dan pengkajian. Inti pandangannya adalah bahwa setiap bahan ajar yang dipilih serta metode dan media yang digunakan harus diarahkan kepada pembentukan kompetensi siswa. Untuk setiap jejang pendidikan, perlu ditetapkan kompetensi apa yang harus dikembangkan. Gagasan ini tampaknya didorong oleh hasrat perlunya menyiapkan sejak dini pembentukan SDM yang memiliki kemampuan handal, kompetitif, khususnya menghadapi persaingan global masa depan.
Pendekatan kompetensi sesungguhnya sudah sejak lama dikenal dalam sistem pendidikan guru yang dikenal dengan PGBK (Pendidikan Guru Berdasar Kompetensi). Dalam bidang seni, pendekatan kompetesi menjadi bahan pembahasan dan disepakati sebagai acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran seni di Indonesia.
Konsep dasar pendekatan kompetensi adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Puskur-Balitbang Depdiknas, 2002).
Dimensi kompetensi mencakup aspek-aspek yang telah diuraikan di muka yaitu : persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produksi. Implikasi pendekatan kompetensi dalam aspek pelaksanaan adalah bahwa kegiatan belajar mengajar terarah kepada suatu sasaran yang berbentuk kompetensi siswa setelah mengikuti suatu program dalam limit waktu tertentu. Pembelajaran tidak asal berlangsung, tapi terkontrol, bertahap, berkelanjutan. Persoalan dalam pembelajaran seni adalah bagaimana halnya dengan kompetensi yang bermuatan ekspresi kreasi? Ekspresi kreasi sukar diduga, sukar diukur, sukar dilatih, karena dorongannya ada dalam diri individu. Dalam hal ini, ukuran-ukuran kompetensi tak bisa lain kecuali bersifat fleksibel, multikriteria, dan kualitatif, seperti terungkap dari kata-kata; siswa memiliki kemampuan berapresiasi...,dst.
Pendekatan DBAE maupun pendekatan kompetensi sama-sama memiliki harapan agar pembelajaran itu berkualitas dan bermakna, tidak sekedar merasa cukup jika siswa ramai-ramai berkarya, tetapi karyanya itu-itu juga dari waktu ke waktu baik dalam tema, bentuk maupun gagasan.

Peran Guru dalam Proses pendidikan seni rupa di sekolah

Bisa dikatakan guru adalah sosok yang digugu lan ditiru, bahwasanya seorang guru tidak hanya terfokus pada statusnya saja, tetapi juga harus mampu membawa peranan jati dirinya. Dalam pembelajaran seni rupa di sekolah, guru memiliki peran yang sangat besar untuk mengembangkan kreativitas anak didik. Untuk membat anak didik dapat lebih berkreasi di bidang seni rupa, guru berkewajiban memberi motivasi yang tiada hentinya yang bisa membangun jiwa-jiwa kreatif dan mengembangkan daya imajinasi yang dimiliki oleh anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar